Di Ruang yang Sempit, Warga Binaan Rutan Pandeglang Menganyam Harapan untuk Masa Depan
![]() |
| Foto: Kepala Rutan Pandeglang, Raden Achmad Zaki, saat diwawancarai awak media, Senin 9 Februari 2026. |
Di salah satu sudut rutan, tangan-tangan perempuan bekerja dengan ritme pelan namun pasti. Benang wol disusun, disilang, lalu dipadatkan.
Dari proses yang sederhana itu lahir tas, bunga hias, gantungan kunci, dan berbagai produk kerajinan lain. Bukan sekadar pengisi waktu, tetapi juga ikhtiar untuk menyiapkan kehidupan setelah masa pidana berakhir.
Kerajinan anyaman ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang dijalankan Rutan Kelas IIB Pandeglang. Kepala Rutan, Raden Achmad Zaki, menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya menghadirkan makna di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas.
“Produk anyaman ini merupakan bentuk pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Kualitasnya sangat baik, bahkan bisa bersaing dengan produk UMKM di luar,” ujar Zaki saat ditemui di Rutan Pandeglang, pada Senin 9 Februari 2026.
Anyaman yang Siap Bersaing di Pasar
![]() |
| Foto: Warga binaan perempuan Rutan Pandeglang sedang melakukan giat program pelatihan. |
Produk-produk anyaman berbahan benang wol itu tidak sekadar layak pakai. Dari segi desain dan kerapian, hasil karya warga binaan perempuan Rutan Pandeglang dinilai memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Tas-tas yang dihasilkan tampil dengan motif sederhana namun fungsional, mencerminkan ketekunan pembuatnya.
Menurut Zaki, tantangan utama saat ini bukan pada kualitas, melainkan pada akses pasar.
“Kendalanya masih di pemasaran. Produknya berupa tas dan kerajinan lainnya. Ke depan, kami berencana memasarkannya dalam kegiatan car free day di Alun-alun Pandeglang,” katanya.
Langkah itu diharapkan menjadi jembatan antara karya warga binaan dan masyarakat luas, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih nyata.
Bekal untuk Kehidupan Setelah Bebas
Di balik setiap anyaman, tersimpan tujuan yang lebih besar: kemandirian setelah bebas. Bagi warga binaan, keterampilan ini diharapkan menjadi modal awal untuk memulai hidup baru, tanpa harus kembali pada lingkaran kesalahan yang sama.
“Kami ingin keterampilan ini benar-benar bermanfaat untuk menunjang kehidupan mereka setelah selesai menjalani masa hukuman,” ujar Zaki.
Upaya tersebut tidak berdiri sendiri. Rutan Pandeglang juga memperkuat pembinaan melalui jalur pendidikan dan pelatihan kerja.
Belajar dan Berlatih di Balik Jeruji
Selama tiga bulan terakhir, Rutan Kelas IIB Pandeglang bekerja sama dengan Posbakum MADIN menyelenggarakan program pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Program ini mencakup jenjang Paket A, B, dan C, dan diikuti oleh banyak warga binaan yang belum menuntaskan pendidikan formalnya.
Selain pendidikan, pelatihan keterampilan teknis juga diberikan, antara lain service AC, dinamo, elektronik, dan perbaikan kulkas. Sebanyak 27 warga binaan tercatat mengikuti pelatihan service, sementara peserta PKBM jumlahnya lebih besar.
Pelatihan-pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat, sekaligus memperluas peluang kerja bagi warga binaan setelah kembali ke lingkungan sosialnya.
Merajut Makna di Tengah Keterbatasan
Overkapasitas, ruang yang sempit, dan keterbatasan fasilitas menjadi realitas yang tak terelakkan di Rutan Pandeglang. Namun di tengah kondisi itu, pembinaan tetap dijalankan, pelan tapi konsisten.
Benang wol yang dianyam di dalam rutan mungkin tampak sederhana. Namun bagi para pembuatnya, ia adalah simbol: tentang kesabaran, tentang harapan, dan tentang kemungkinan untuk memulai kembali.
Di ruang yang sempit, warga binaan Rutan Pandeglang belajar bahwa masa depan masih bisa dirajut selama tangan mau bekerja dan harapan tak dilepaskan. <JDN>


Posting Komentar untuk "Di Ruang yang Sempit, Warga Binaan Rutan Pandeglang Menganyam Harapan untuk Masa Depan"