Bale Seni Ciwasiat Konsisten Lestarikan Rampak Beduk, Alumni Kini Dirikan Sanggar di Berbagai Daerah
![]() |
| Rumah Bale Seni Ciwasiat tampak dari depan (Foto: Pandeglang Xyz) |
Ketua Bale Seni Ciwasiat, Rohendi, mengatakan sanggar tersebut rutin menggelar latihan setiap Sabtu dan Minggu. Bahkan, ketika menerima mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL) dari sekolah seni di Bandung, latihan dilakukan hampir setiap hari.
"Alhamdulillah, lulusan dari sini sudah ada yang membuka sanggar sendiri. Di Lebak ada tiga sanggar, di Tangerang juga ada," kata Rohendi saat ditemui di Sanggar Bale Seni Ciwasiat, Sabtu (25/7/2026).
Bale Seni Ciwasiat dikenal mengembangkan pertunjukan Jaipong Rabed, yakni kolaborasi rampak beduk khas Pandeglang dengan musik jaipong khas Pasundan. Inovasi tersebut tetap mengacu pada pakem rampak beduk yang dipelajari dari para maestro seni di Pandeglang.
Rohendi mengaku mulai mendalami rampak beduk setelah pertama kali menyaksikan festival kesenian tersebut saat bertugas sebagai Guru Bantu di SMP Terbuka Cadasari, Pandeglang, pada 1998. Ia kemudian belajar kepada sejumlah tokoh seni, di antaranya Didi Pamagersari dan Maman Badarzaman, mulai dari teknik tabuhan, pola gerak, hingga filosofi rampak beduk.
"Saya diajarkan mana yang boleh dikembangkan dan mana yang harus tetap mengikuti pakem," ujarnya.
Kerja keras Bale Seni Ciwasiat membuahkan hasil. Dua tahun setelah berdiri, kelompok seni tersebut tampil di Belanda pada 2010. Selanjutnya pada 2013 mereka kembali dipercaya tampil di Malaysia memperkenalkan rampak beduk khas Pandeglang.
Rohendi yang kini menjabat Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Banten mengatakan aktivitas berkesenian tetap dijalankan meski telah berkarier sebagai aparatur sipil negara.
Menurutnya, seni tradisi merupakan tanggung jawab moral yang harus terus dijaga meskipun secara ekonomi tidak selalu memberikan keuntungan.
"Seni tetap jalan terus. Secara ekonomi memang tidak menguntungkan, tapi ini tanggung jawab moral sekaligus hobi," katanya.
Ia berharap regenerasi seniman terus berjalan sehingga rampak beduk sebagai salah satu kesenian khas Pandeglang tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. [03/Red]

Terimakasih tulisan yang menginspirasi
BalasHapus