Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyusuri Jejak Waktu di Masjid Tua Pasir Angin, Ketika Dingin Gunung Karang Menyapa Hati

Menyusuri Jejak Waktu di Masjid Tua Pasir Angin, Ketika Dingin Gunung Karang Menyapa Hati. (Foto: JDN)

PANDEGLANG XYZ

Langit mulai berwarna jingga ketika perjalanan meninggalkan Alun-alun Pandeglang sekitar pukul 17.30 WIB. Jalan yang terus menanjak membawa kendaraan menuju Kampung Pasir Angin, di lereng Gunung Karang, puncak tertinggi di Kabupaten Pandeglang yang menjulang sekitar 1.778 meter di atas permukaan laut. 

Gunung yang kerap dijuluki sebagai "langitnya Banten" itu bukan hanya menawarkan panorama pegunungan, tetapi juga menyimpan jejak spiritual yang telah hidup selama bergenerasi.

Sesampainya di kampung itu, azan Magrib berkumandang. Udara pegunungan langsung menyergap dengan hawa dingin yang khas. Sebelum menunaikan salat, air wudu yang mengalir dari sumber pegunungan terasa begitu dingin, seolah menembus hingga ke tulang. Namun, sensasi itu justru menghadirkan kesegaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Di hadapan berdiri sebuah masjid tua yang masih mempertahankan wajah masa silam. Bangunan kayu berpanggung dengan ornamen-ornamen sederhana menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Pasir Angin. Tidak ada kemewahan yang mencolok, hanya kesederhanaan yang menghadirkan ketenangan. Suasana salat Magrib di dalamnya terasa begitu khusyuk dan menenangkan, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini.

Masyarakat sekitar meyakini masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Dari cerita yang diwariskan turun-temurun, konon setiap malam Rabu para tokoh agama dan para wali berkumpul di masjid tersebut. Kisah itu terus hidup sebagai bagian dari ingatan kolektif warga, menambah aura spiritual yang membuat banyak orang datang berziarah maupun sekadar beribadah.

Menjelang Isya, seorang tokoh masyarakat setempat, H. Jali (71), duduk santai sambil menghisap tembakau. Di tengah udara dingin pegunungan, ia mulai berkisah tentang perjalanan masjid yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

"Dulu masjid ini sempat mau direhab. Tapi terjadi pro-kontra di masyarakat. Akhirnya diputuskan bangunan lama tetap dipertahankan, hanya diperluas dengan bangunan baru," tuturnya.

Menurut H. Jali, bangunan asli masjid berukuran sekitar 11 x 13 meter. Adapun bangunan permanen yang kini berdiri di sampingnya merupakan hasil pengembangan di kemudian hari.

"Kalau yang bangunan lama ukurannya 11 x 13 saja. Yang tembok itu dibangun belakangan," ujarnya.

Yang paling menarik, hingga kini tidak seorang pun benar-benar mengetahui kapan masjid tersebut pertama kali didirikan.

"Kalau umur bangunannya sendiri tidak ada yang tahu. Umur saya sekarang 71 tahun. Orang tua saya dulu juga tidak tahu sebenarnya sejak kapan bangunan masjid dibuat," katanya.

Seluruh material utama bangunan lama berasal dari alam sekitar. Kayu-kayu pilihan dari Gunung Karang menjadi bahan utama konstruksi, sementara seluruh tiang penyangganya menggunakan kayu nangka yang dikenal kuat dan tahan lama.

"Bahannya dari kayu gunung di sini. Adapun tiang-tiangnya itu semuanya kayu nangka," jelas H. Jali.

Keberadaan masjid tua ini ternyata telah dikenal luas hingga ke luar Banten. Menurut H. Jali, hampir setiap pekan ada saja pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

"Banyak yang datang dari Tangerang, Jakarta, sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur," ujarnya.

Tak hanya itu, pintu masjid tidak pernah benar-benar ditutup.

"Masjid di sini 24 jam dibuka."

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Masjid Tua Pasir Angin tetap berdiri dengan kesederhanaannya. 

Bangunan kayu yang dipertahankan, hawa dingin pegunungan, kisah para wali yang terus hidup dalam cerita masyarakat, serta keramahan warga menjadikan tempat ini bukan sekadar tujuan wisata religi. Ia adalah ruang tempat sejarah, tradisi, dan spiritualitas bertemu dalam keheningan lereng Gunung Karang, tempat di mana waktu seolah memilih berjalan lebih pelan. [JDN]



Posting Komentar untuk "Menyusuri Jejak Waktu di Masjid Tua Pasir Angin, Ketika Dingin Gunung Karang Menyapa Hati"