Menanti Atap yang Tak Lagi Mengancam, Harapan Yana di Rumah Peninggalan Orang Tua
![]() |
| Sebuah rumah di Pasir Haur, kelurahan Kadumerak, kecamatan Karang Tanjung, yang kini lebih banyak menyimpan kekhawatiran daripada rasa aman. Atapnya nyaris ambruk. (Foto: Pandeglang XYZ) |
PANDEGLANG XYZ - Di sudut Kampung Pasirhaur, RT 01 RW 02, Kelurahan Kadumerak, Kecamatan Karangtanjung, berdiri sebuah rumah sederhana yang kini lebih banyak menyimpan kekhawatiran daripada rasa aman. Atapnya nyaris ambruk. Genteng-genteng yang dulu melindungi penghuninya satu per satu telah berjatuhan.
Setiap kali hujan turun, air merembes dari berbagai sudut. Tidak ada lagi titik di dalam rumah yang benar-benar terbebas dari bocor. Saat hujan deras mengguyur, Yana Mulyana bersama keluarganya memilih meninggalkan rumah itu untuk sementara. Mereka mengungsi ke rumah saudara yang masih tinggal di kampung yang sama.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya kebocoran. Tulang-tulang penyangga atap sudah tak lagi mampu menopang beban. Agar tidak roboh, bagian atap terpaksa disangga dengan batang-batang bambu.
"Ingin dibenerin tapi uangnya belum ada," ujar Yana saat ditemui pada Jumat (10/7/2026).
Bagi Yana, rumah itu bukan sekadar tempat berteduh. Rumah tersebut merupakan peninggalan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keinginannya memperbaiki rumah itu belum juga terwujud.
Ia kini membesarkan dua anak. Anak sulungnya duduk di kelas II Madrasah Tsanawiyah dan tinggal di sebuah yayasan, sementara anak keduanya baru memasuki bangku sekolah dasar.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, suaminya bekerja serabutan. Berbagai pekerjaan pernah dijalani, mulai dari menjadi sales makanan hingga buruh bangunan, bergantung pada kesempatan yang ada.
Kondisi rumah itu, menurut Yana, sudah berlangsung selama beberapa tahun. Ia mengaku pernah didatangi petugas dari kelurahan sekitar setahun lalu. Saat itu rumahnya ditinjau dan didokumentasikan. Beberapa bulan kemudian, sekitar lima bulan lalu, pengurus partai di tingkat ranting juga datang melakukan hal serupa.
Namun, hingga kini, kunjungan-kunjungan tersebut belum berujung pada perubahan yang diharapkan. Belum ada kepastian ataupun tindak lanjut mengenai bantuan perbaikan rumah.
Sementara waktu terus berjalan, Yana hanya bisa berharap atap rumahnya tetap bertahan setiap kali langit mulai mendung. Sebab bagi keluarganya, hujan bukan lagi sekadar musim yang datang dan pergi, melainkan pertanda bahwa mereka mungkin harus kembali meninggalkan rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan orang tua demi mencari tempat yang lebih aman. [007/Red]

Posting Komentar untuk "Menanti Atap yang Tak Lagi Mengancam, Harapan Yana di Rumah Peninggalan Orang Tua"