Kresek Tak Lagi Jadi Sampah: Cerita Ibu-Ibu GSI Merangkai Bunga dan Masa Depan
![]() |
| Dari Kresek Menjadi Harapan: Kreativitas Ibu-Ibu Griya Saguna Indah Ubah Sampah Jadi Rupiah |
Pandeglang - Di sebuah sudut Perumahan Griya Saguna Indah (GSI), Kampung Kayuambon, Desa Sukasari, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, tumpukan kantong plastik yang biasanya berakhir di tempat sampah justru menjelma menjadi rangkaian bunga cantik.
Di tangan ibu-ibu setempat, limbah plastik itu “hidup kembali” sebagai bunga Kantong Kresek atau yang akrab mereka sebut bunga Kanker, sebuah karya kreatif yang sarat pesan lingkungan dan harapan ekonomi.
Gerakan sederhana ini lahir dari keresahan akan sampah plastik yang kian menggunung. Ketua PKK RT 007, Siti Pujaemah, menjadi salah satu motor penggeraknya. Ia menyadari, plastik merupakan jenis sampah yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan bijak.
“Tujuan utama kami adalah mengurangi sampah plastik yang ada di Pandeglang. Daripada dibuang dan mencemari lingkungan, plastik ini kami manfaatkan menjadi produk yang punya nilai ekonomi,” ujar Pujaemah, Jumat, 16 Januari 2026.
Bagi Puja, kegiatan ini bukan sekadar soal lingkungan. Lebih dari itu, kerajinan bunga Kanker menjadi ruang bagi ibu-ibu untuk berkarya, berkreasi, dan mengasah imajinasi. Dari plastik kresek berwarna-warni, lahirlah aneka bentuk bunga yang unik, dirangkai dengan penuh ketelatenan.
“Ini juga melatih kreativitas. Limbah yang dianggap tidak berguna bisa berubah menjadi karya seni yang menarik dan bernilai,” ungkapnya.
Bunga Kanker buatan ibu-ibu GSI kini difungsikan sebagai hiasan dekoratif ruangan. Keindahannya menjadikannya alternatif bunga asli yang tak perlu disiram, tak layu, namun tetap sedap dipandang. Setiap rangkaian menyimpan cerita tentang kepedulian terhadap lingkungan dan semangat kemandirian ekonomi.
Saat ini, penjualan masih dilakukan secara langsung dan melalui pameran UMKM. Harga pun bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung model dan tingkat kerumitan. Meski belum merambah penjualan daring, Puja optimistis peluang itu terbuka lebar ke depan.
“Kalau nanti peminatnya semakin banyak, kami berencana membuka penjualan online lewat marketplace,” katanya.
Apresiasi pun datang dari Ketua RT 007 RW 005 Desa Sukasari, Aldo Marantika. Menurutnya, apa yang dilakukan ibu-ibu GSI merupakan contoh program terintegrasi yang patut didukung menggabungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
“Program ini sangat bagus, karena menjaga lingkungan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi warga,” kata Aldo.
Ia berharap, gerakan kecil dari lingkungan perumahan ini terus tumbuh dan menginspirasi masyarakat luas.
“Mudah-mudahan kegiatan ini terus berkembang dan membuat warga semakin bersemangat untuk hidup lebih maju,” harapnya.
Dari plastik bekas menjadi bunga cantik, dari keresahan menjadi peluang, ibu-ibu Griya Saguna Indah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari tangan-tangan sederhana yang peduli. [*/Red]

Posting Komentar untuk "Kresek Tak Lagi Jadi Sampah: Cerita Ibu-Ibu GSI Merangkai Bunga dan Masa Depan"